Seringnya berhubungan dengan perusahaan penyedia layanan hosting untuk mengurus kebutuhan klien, membuat saya sedikit banyak mulai paham bahwa aktivitas pemilihan hosting yang tepat memang tidaklah semudah makan bubur ayam, meskipun juga tidak sesulit membuat bubur ayam, apalagi menangkap ayamnya
.
Berikut adalah beberapa hal yang bisa dijadikan sedikit acuan:
- Layanan pelanggan
- Kapasitas hosting
- Lokasi server
- Kelengkapan fitur
- Harga
- Bonus
Layanan yang saya maksud di sini mencakup kemudahan dihubungi, kecepatan dalam memberi respon, kemampuan memberikan solusi yang tepat bagi masalah pelanggan, dan kemampuan menyenangkan hati pelanggan. Tentu bukan tanpa alasan saya meletakkan Layanan pelanggan (customer service) di urutan pertama. Saya sudah teramat sering harus kecewa dengan layanan tempat hosting yang sangat tidak profesional. Tapi apa boleh buat, sewanya sudah untuk 1 tahun. Jadi akhirnya harus sabar mengurut dada sambil berancang-ancang untuk cabut ke lain hati, eh hosting, setelah sewa berakhir, tahun depannya.
Karenanya, mencicipi kualitas layanan pelanggan adalah salah satu ritual yang hampir pasti selalu saya lakukan sebelum memutuskan untuk melanjutkan order. Caranya bisa macam-macam, tergantung kebutuhan dan mood
. Biasanya sih dengan langsung mencoba semua metode layanan yang ditawarkan, bisa dengan telepon, ym, email, sms, live chat, atau apa saja. Saya tanyakan semua hal yang ingin saya ketahui, dengan berbagai cara dan gaya. Kadang lemah lembut, kadang sedikit marah-marah (lah… belum jadi pelanggan sudah marah-marah
). Dan lihat apa reaksinya.
Pernah saya terpaksa berpaling ke lain hati, eh hosting, karena si cs tidak sabaran melayani pertanyaan-pertanyaan saya. Pernah karena responnya lemot banget. Pernah karena 80% jawabannya adalah ‘tidak tahu’. Ah macam-macam lah pokonya.
Anda boleh tidak percaya dengan cara saya ini, tapi berjanjilah untuk tidak menyesal apabila di kemudian hari Anda menemukan bahwa tempat hosting yang Anda pilih ternyata tidak becus dalam melayani keluhan pelanggan.
Setiap penyedia layanan hosting sudah menyediakan pilihan kapasitas space hosting yang beragam. Mulai dari yang puluhan MB sampai puluhan GB. Begitupun juga dengan kapasitas bandwidht, beragam mulai dari yang sekian GB sampai yang puluhan GB. Biasanya juga sudah dikelompokkan ke dalam beberapa paket kategori: personal, bisnis, enterprise, dsb. Kalau tidak terbiasa, atau baru pertama kali melakukannya, pasti akan sangat membingungkan dalam memilihnya (apalagi kalau cs nya menyebalkan…ugh..).
Kebutuhan space hosting ditentukan dari seberapa besar ukuran file yang akan disimpan. Percuma juga memilih kapasitas space ber-giga-giga kalau kebutuhannya ternyata hanya sekian mega saja. Sebab, besar atau kecil kapasitas space hosting juga tidak akan dirasakan bedanya secara langsung oleh pengunjung website kita nantinya. Begitupun juga dengan bandwidht, kebutuhannya ditentukan dari seberapa banyak transfer data yang akan dilakukan setiap bulannya, atau sederhananya ditentukan dari seberapa banyak pengunjung website kita nanti setiap bulannya. Misalnya, untuk keperluan blogging sehari-hari menggunakan wordpress, kapasitas space 50MB dan bandwidth 5GB sudah cukup memuaskan. Tentu tidak berdosa kalau ternyata memilih space 1GB dan bandwidth 80GB untuk keperluan ini. Tapi buat apa, mubadzir jadinya. Lain cerita sih kalau Anda memang kelebihan duit
.
Kalau saya, biasanya akan memilih kapasitas hosting yang kecil lebih dulu, asalkan cukup untuk menyimpan file-file website saja, apalagi kalau itu adalah pengalaman pertama dengan tempat hosting yang bersangkutan. Kalaupun nantinya dirasakan kurang, proses upgrading ke paket yang lebih tinggi sekarang bukanlah hal yang sulit dilakukan.
Tapi kalau space nya terlalu kecil, bagaimana dengan kebutuhan lainnya seperti email, image, video, dll? Kalau saya sih selama bisa gratis kenapa harus bayar
. Misalnya untuk email, Google Apps sangatlah memadai untuk mengurusnya. Image bisa dihosting di photobucket, live space, atau flickr untuk kemudian diembed di website kita. Begitupun juga dengan video bisa dihosting di YouTube, vimeo, atau vidilife dan nantinya juga diembed di website kita. Menghemat space bukan?
Biasanya penyedia layanan hosting juga menawarkan server di beberapa lokasi yang berbeda. Kita tinggal milih sesuai dengan keperluan. Pertimbangannya adalah pengunjung yang kita target untuk mengunjungi website kita nantinya. Kalau targetnya domestik, pilih saja yang lokasinya di Indonesia. Kalau targetnya orang luar, pilih server yang lokasinya di Amerika atau di negara lain yang dekat dengan lokasi target.
Kenapa begitu? (ah, saya kira Anda ga bakalan nanya).
Jadi begini, disadari atau tidak, data dari website yang kita buka tidak langsung sampai di komputer begitu saja, tetapi mampir-mampir dulu di beberapa tempat hingga akhirnya makin dekat, makin dekat, dan sampai di tujuan dengan selamat. Nah, kalau kita tempatkan server dekat dengan pengunjung website, tentu datanya tidak akan mampir-mampir dulu ke banyak tempat. Akibatnya, tentu waktu yg dibutuhkan buat nampilin data website di komputer kita juga makin cepat.
Alasan lainnya gini. Dulu saya punya website waktu masih kuliah. Meskipun targetnya adalah teman-teman sendiri yang notabene adalah orang-orang Indonesia tulen, tapi saya nekat milih hosting di server Amrik. Karena selain masih belum percaya dengan teori jauh-dekatnya server-user, hosting di server Amrik lebih murah loh ketimbang server Indonesia (coba aja cek kalau tidak percaya). Akhirnya singkat cerita, datanglah musibah itu. Alat yang nyambungin internet Indonesia dengan luar negeri rusak gara-gara kena badai. Akibatnya, pengguna Internet Indonesia tidak bisa buka website yang servernya di luar negeri, begitupun juga sebaliknya, tanpa terkecuali website saya tercinta
Untuk pengguna awam, mungkin kapasitas space dan bandwidth sudah cukup untuk menentukan pilihan tempat hosting. Tapi bagi para developer, biasanya banyak lagi fitur lain yang dijadikan pertimbangan. Simpelnya, berapa banyak fitur di cpanel yang diaktifkan. (buat yang belum tahu, cpanel itu adalah aplikasi yang umum digunakan untuk management hosting bagi para pelanggan).
Kalau saya biasanya, fitur-fitur ini yang diperhatikan:
- kapasitas space, bandwidht, lokasi server, dan kualitas layanan sudah pasti lah
- mysql database, phpmyadmin, berapa banyak database yg bisa dibuat
- berapa banyak add-on domain, parked domain, dan sub domain yang bisa ditambahkan
- modul-modul php yg diinstal
- ftp account yg bisa dibuat
- dll
Setiap kali akan order, berbeda-beda hal yang menjadi fokus perhatian. Kebutuhan klien kan unik, jadi tidak bisa dipukul rata. Misalnya kebutuhannya cuma untuk 1 blog, kenapa juga harus memperhatikan apakah disediakan fitur untuk membuat lebih dari 1 database atau tidak. Tapi kalau kebutuhannya untuk image gallery atau document sharing, harus diperhatikan benar apakah modul php yang dibutuhkan sudah terinstall atau belum. Kalau belum, tanyakan pada cs nya bisa diinstallkan apa tidak. Kalau tidak, ya sudah cari tempat lain saja. Gitu aja kok repot
Believe me, harga tidak bohong (kalau ada, pasti orangnya tuh yang bohong :p). Entah kenapa saya selalu mudah berburuk sangka pada tempat hosting yang menawarkan harga murah tapi dengan janji yang memukau. Dan menurut pengalaman serta fakta empiris di lapangan, membuktikan bahwa ternyata dugaan saya ini tidak salah.
Pernah suatu saat saya menemukan tempat hosting yang menawarkan harga luar biasa murah. Dalam hati saya sudah waswas. Namun, setelah mencermati fitur-fitur yang ditawarkan saya belum juga menemui sesuatu yang aneh. Singkat kata, perfect lah nih tempat hosting. Sebulan, dua bulan, everything works just fine. Hingga sampailah pada suatu masa di mana website yang saya hosting tersebut sudah dikenal banyak orang. Akibatnya, jumlah pengunjung membludak, yang berakibat cepatnya bandwidth habis sebelum waktunya. Setelah menghubungi cs nya, masih suaranya semanis dulu (fyi, cs nya cewek
), tapi skrg sudah sering mengeluarkan kalimat sakti yang sungguh sangat menyebalkan bagi saya, “keluhan bapak sedang kami tangani, nanti akan kami hubungi setelah selesai”. Begitu berulang-ulang seperti suara mainan keponakan saya yg keluar nyanyian yang sama berulang-ulang setiap tombolnya dipencet.
Ah, sekarang saya tahu kenapa harganya dulu sangat murah.
Sebagaimana jenis usaha yang lain, penawaran bonus juga menjadi pilihan favorit untuk penarik pelanggan bagi penyedia layanan hosting. Meskipun tentu tidak menjadi fokus pertimbangan yang utama, tetapi hal ini juga patut dicermati. Siapa yang tidak mau coba dengan hanya bayar sekitar 150rb per tahun untuk biaya hosting, nanti berpeluang mendapat bonus mobil dua pintu. Haha… meskipun sampai sekarang saya belum menemukan sih yang sampe segitunya
. Voucher langganan, free domain, free upgrade, dan free free yang lain, bolehlah..
Tapi ada yg paling saya benci, yaitu tempat hosting yang cuma bagi-bagi bonus bagi pelanggan baru, sedangkan bagi pelanggan lama nul putul. Seakan-akan itu cuma dijadikan sebagai umpan agar orang mau masuk ke perangkapnya. Dan setelah masuk, kita dibiarkan tidak diperhatikan apalagi dihibur lagi. Ugh… padahal menjaga loyalitas pelanggan lama itu yang sulit dibandingkan dengan mendapatkan perhatian pelanggan baru.
Jadi begitulah, memilih tempat hosting memang butuh kesabaran. Butuh dicermati, butuh perhatian, tidak asal-asalan. Kalau sampai salah, bisa makan hati tiap hari. Bagaimana dengan Anda? Ada pertimbangan lain dalam memilih tempat hosting?
nb: Karena tulisan ini memang murni menceritakan pengalaman saya pribadi, tanpa pesanan dari sponsor tertentu, maka saya tidak menyertakan list tempat hosting yang saya rekomendasikan. Hal ini penting untuk menjaga objektifitas tulisan saya. Terima kasih.